Teknologi dan Transformasi Pekerja Berita : Apakah Kondisi dari Tenaga Kerja di dalam jurnalisme (online) berubah?
Pada
blog kali ini saya akan membahas seperti pertanyaan yang tertera pada judul di
atas. Dengan adanya Teknologi dan Transformasi Pekerja Berita, bisakah
menyebabkan kondisi dari Tenaga Kerja dalam jurnalisme (online) berubah ?
Sebelumnya,
perlu kita ketahui terlebih dahulu bahwa pada tahun 2009 , ada sekelompok
jurnalis dan cendekiawan media Flemish dari Belgia Utara yang menyatakan bahwa
21,4% atau seperlima dari populasi jurnalis di Flanders terjadi peningkatan
risiko kelelahan emosional, sikap sinisme, dan kurang fokusnya jurnalis dalam
bekerja. Selain di Belgia, terjadi juga di Amerika Serikat yang menunjukkan
bahwa banyak editor muda yang mengalami kelelahan. Karena tugas seorang jurnalis disini, ialah
mereka yang tidak hanya mencari berita dan menulisnya, tapi juga pandai
mengerjakan semuanya dari mencari berita, mencari gambar yang bersangkutan dari
berita, membuat dokumentasi video sekaligus mengeditnya sendiri hingga
menyebarkannya. Dengan adanya hal tersebut bahkan Pusat Penyakit Nasional AS tahun
2005 menyatakan jurnalisme merupakan 7 dari 10 besar pekerjaan yang menimbulkan
efek stres.
Peran
teknologi dalam kapitalisme baru tidak dapat diabaikan. Karena teknologi
menjadi pendorong utama dibalik transisi organisasi dalam sebuah perusahaan. Pada
kapitalisme baru, apa yang jurnalis berikan tidak sesuai dengan apa yang ia
terima, seperti imbalan berupa gaji yang sedikit namun beban kerja yang berat
dan kondisi kerja yang tidak nyaman. Sehingga banyak dari jurnalis yang memilih
lepas dari pekerjaan dan memilih wirausaha.
Saya
ambil contoh salah satu stasuin televisi di Yogyakarta, yaitu kantor perwakilan
dari salah satu stasiun televisi berpusat di Jakarta. Stasiun televisi yang
baru berjalan kurang lebih satu tahun, pada tahun 2018. Jumlah karyawan yang
ada di Biro Yogyakarta baru ada 10 orang karyawan yang bekerja untuk
mengoperasionalkan di Yogyakarta. Dari ke 10 karyawan tersebut diwawancarai satu-persatu mengenai apa yang dirasakan saat bekerja di salah satu stasiun di Yogyakarta. Berikut
hasil rangkuman dari ke 10 Karyawan :
1. Suasana
Tegang. Suasana muncul karena ada tuntutan pekerjaan yang datang pada hari itu,
seperti dikejar deadline.
2. Perasaan
Tidak Nyaman. Biasanya disebabkan karena keinginan atasan yang berubah-ubah
3. Mudah
Lelah. Karena tuntutan pekerjaan yang tinggi.
4.Cemas.
Permintan atasan yang berubah-ubah, jadi perasaan cemas selalu muncul saat
karyawan disuruh menghadap atasan.
5. Mudah
Sensitif. Biasanya diakibatkan karena karyawan yang terlalu banyak pekerjaan
namun kondisi badan yang ditak memungkinkan kuat untuk menjalani.
6. Kurang
Tidur. Waktu yang seharusnya untuk istirahat, namun karena tuntutan pekerjaan
yang mengakibatkan lembur saat itu juga.
7. Jenuh.
Dirasakan oleh seorang jurnalis dalam stasiun televisi ini, karena pekerjaannya
hanya itu-itu saja dan tidak sesuai dengan ekspektasinya.
8. Sakit
kepala. Yang sering menimpa wartawan ketika liputan, ialah tuntutan atasan,
yang macam-macam dan ingin mendapatkan laporan sesegera mungkin.
9. Malas
dan Tidak Semangat Masuk Kerja. Dua hal yang saling berkaitan , dimana seorang
wartawan bisa saja malas bekerja karena banyaknya tuntutan dan hubungan yang
tidak baik dengan atasan, yang juga bisa mengakibatkan hubunga yang tidak baik
kepada karyawan lain. Dengan rasa malas ini mengakibatkan seorang wartawan
malas untuk bekerja.
Jadi
kesimpulan dari pertanyaan akankah kondisi dari Tenaga Kerja dalam jurnalisme
(online) berubah ?. tentu berubah, ke dalam hal yang kebanyakan negatif, karena
jurnalis yang selalu dituntut untuk serba bisa, paling tidak punya waktu 13 jam
untuk bekerja, dan bekerja di bawah tekanan waktu. Tentu akan sangat
menyusahkan seorang jurnalis. Dan ancaman menjadi jurnalis pun besar risikonya,
seperti kekerasan, penculikan, penganiayaan wartawan saat bertugas. Namun wartawan
sudah tidak memperdulikan dirinya lagi, karena tuntutan waktu yang mengejarnya.
Daftar
Pustaka
Wardhana, Andhika Kusuma.2018. Stres
Kerja: Penyebab, Dampak, Dan Solusinya (Studi Kasus Pada Karyawan NET.
Yogyakarta).Skripsi.Tidak Diterbitkan. Fakultas Ekonomi. Universitas Islam
Indonesia: Yogyakarta.
Terimakasih J
Komentar
Posting Komentar